AYAM PEDAGING (BROILER) merupakan istilah umum yang sering digunakan dalam dunia peternakan untuk menjabarkan ayam yang dikhususkan untuk produksi daging. Ayam niaga pedaging merupakan jenis ayam yang mudah untuk dikembangbiakan, dimana waktu pemeliharaanya antara 30-40 hari sebelum dikonsumsi. Kurun waktu yang begitu singkat inilah yang membuat ternak ayam pedaging (broiler) menjadi sangat menguntungkan. Peningkatan populasi manusia setiap tahunnya menjadikan tingkat kebutuhan akan daging pun meningkat, sehingga akan sangat menguntungkan jika ayam pedaging (broiler) ini dibudidayakan sebagai penghasil daging.

Dalam dunia peternakan ayam yang semakin berkembang dikenal lah namanya strain ayam. Setiap negara memiliki strain ayam niaga pedaging yang berbeda-beda dan tentunya strain tersebut sudah lolos melalui kajian laboratorium bidang pembibitan.

APA ITU STRAIN?

Strain ayam merupakan sebuah istilah untuk jenis atau grup ayam yang memiliki keunggulan secara spesifik. Keunggulan – keunggulan yang dimiliki oleh ayam ini lah yang membuat ayam tersebut dapat dipasarkan ke masyarakat. Beberapa contoh strain ayam pedaging yang pernah dibudidayakan antara lain CP 707, Strabro, Hybro, dan lain-lain.

APA PERBEDAAN DARI SETIAP STRAIN YANG ADA?

Terkadang pemilihan strain tersebut membuat bingung. Apa perbedaan jika saya  memilih menggunakan strain ini dibandingkan strain lain. Dari fisik, setiap strain memiliki kualifikasi yang hampir sama yaitu ayam memiliki badan yang tegap, bulu berwarna putih, jengger serta pial berwarna merah, dan DOC (day old chick) memiliki bulu yang berwarna kunin cerah. Perbedaannya terletak pada peforma dari setiap strain dalam pencapaian bobot badan ayam dalam setiap proses pemeliharaannya.

Untuk mempermudah bagaimana perbedaan peformansi dari setiap strain. Berikut ini diberikan tiga tipe pencapain bobot badan, dimana diasumsikan faktor manajemen dilevel yang sama.

  1. Tipe Pertama adalah pencapaian bobot badan ayam pada minggu pertama dan kedua berada pada level normal. Setiap produsen pasti memiliki standar pakan dan bobot mingguan sehingga bobot badan ayam pada dua minggu ini kurang lebih sesuai dengan tabel pakan yang dimiliki. Lalu pada saat minggu ketiga dan keempat akan melesat tinggi atau naik. Dalam ilmu nutrisi dikatakan bahwa pada umur tersebut pencernaan ayam sudah memiliki pondasi nutrisi untuk frame tubuh sehingga untuk minggu-minggu berikutnya lebih difokuskan pada proses pembentukan daging ayam.
  2. Tipe Kedua adalah tipe sedang atau standar, dimana proses kenaikan bobot ayam akan selalu mengacu pada kenaikan bobot pada tabel pakan yang telah disiapkan oleh produsen. Berbeda dengan tipe pertama yang akan melesat pada minggu ke tiga dan ke empat. Proses kenaikan bobot ayam pada tipe kedua ini akan terus mengikuti kenaikan bobot ayam pada tabel pakan hingga ayam pedaging (broiler) mencapai umur panen.
  3. Tipe Ketiga adalah tipe negatif, untuk minggu pertama dan minggu kedua bobot ayam tercapai. Tetapi saat memasuki minggu ketiga dan keempat maka akan mengalami masa stagnan (stabil mengikuti tabel pakan) bahkan mengalamin penurunan bobot.

Semua perbedaan pencapaian diatas akan sangat dipengaruhi oleh keputusan dari peternak itu sendiri dalam memilih manajemen pemeliharaan., termasuk halnya memiliki strain yang tepat dan cocok untuk kondisi manajemen perkandangan.

 

 

AYAM PETELUR (LAYER), dari namanya saja dapat diketahui bahwa jenis ayam yang menghasilkan telur. Saudara dari ayam niaga pedaging yaitu ayam niaga petelur atau yang biasanya dikenal masyarakat dengan sebutan ayam merah memilik peforma spesifik yang cukup mudah untuk dikembangkan. Pemeliharaan yang terpadu pada ayam petelur (layer) akan membuat ayam ini dapat menghasilkan telur yang berkualitas.

Seperti yang sudah dibahas pada bagian ayam pedaging (broiler). Ayam petelur (layer) juga memiliki strain. Jenis-jenis strain pada ayam petelur (layer) seperti tipe ringan (Leghorn), tipe medium (Hysex dan Ross).

Rasyaf (1989) mengatakan bahwa jenis strain tipe ringan (Leghorn) pada ayam petelur merupakan tipe strain dengan penghasil telur yang sangat baik dan memiliki warna putih. Dimana pada jenis strain ini memiliki rasio konversi pakan ke telur unggul sekitar 125 gram/dosin telur dengan kebutuhan air minum ad libitum (dimana cara pemeliharaan ayam memberikan air minum sesering mungkin atau tak terbatas. Sedangkan untuk strain tipe medium memiliki rasio konversi pakan ke telur unggul sekitar 190 gram/dosin telur dengan kebutuhan air minum ad libitum.

Dapat dilihat dengan jelas melalui rasio konversi pakan ke telur, dapat disimpulkan bahwa ayam petelur (layer) yang mengikuti strain tipe medium seperti HySex dan Ross pasti memiliki bobot tubuh yang lebih padat dan lebih berat. Bobot yang lebih padat dan berat ini membuat ayam jenis ini dapat digunakan sebagai tipe dwiguna (petelur dan pedaging). Walaupun terdapat ayam tipe ringan dan medium, kedua jenis tipe ini tetap memerlukan proses pemeliharaan yang relatif sama.

Selain itu ada satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan baik ingin memeliharan ayam pedaging (broiler) ataupun ayam petelur (layer) yaitu pemilihan bibit unggul. Tahapan paling awal dan mudah dalam proses melakukan pemilihan bibit unggul adalah dengan mempelajari breeding farm, hatchery (asal dari DOC), sistem pemeliharaannya, dan biosecurity.

Faktor-faktor tersebutlah yang membuat setiap produsen ayam bibit memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sehingga bagi peternak ayam pedaging (broiler) atau ayam petelur (layer) harus mengetahui kebutuhan manajemen perkandangan, seperti kecocokan iklim kandang dengan kondisi DOC.