Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi tanpa oksigen (anaerob). Bahan baku untuk produksi biogas terdiri dari kotoran sapi, kotoran unggas, kotoran babi, kotoran ayam, kotoran yang masih mengandung rumput, dan algae. Energi biogas dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Bahkan dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya pertanian.

Teknologi biogas telah digunakan di banyak negara,  diantaranya :  Cina sejak tahun 1975 mengembangkan teknologi biogas melalui program “biogas for every household”. Hingga pada tahun 1992 tercatat 5 juta rumah tangga di Cina menggunakan biogas. Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak & manusia serta limbah pertanian. Bahkan India pun telah mengembangkan teknologi biogas sejak tahun 1981 melalui “The National Project on Biogas Development” oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional dan di tahun 1999 tercatat 3 juta rumah tangga menggunakan biogas. Adapun reaktor biogas yang digunakan model sumur tembok dan dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian.

Sementara itu,  Indonesia memulai pengenalan teknologi biogas di era tahun 70’an akan tetapi proyek ini kehilangan cerita hingga kembali muncul kembali di tahun 1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari FAO dibangun contoh instalasi biogas di beberapa provinsi. Akan tetapi, tetap saja penggunaan biogas belum cukup berkembang luas hal itu dikarenakan harga BBM yang  masih relatif murahnya, sementara teknologi biogas yang diperkenalkan di era ini memerlukan biaya yang cukup tinggi karena berupa konstruksi beton dengan ukuran yang cukup besar. Mulai tahun 2000-an telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana, terbuat dari plastik secara siap pasang (knockdown) dan dengan harga yang relatif murah.

Saat ini potensi pengembangan biogas di Indonesia masih cukup besar. Hal tersebut mengingat bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik yang dihasilkan dari proses produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak kecil pula.

Untuk itu Kementerian Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi berupa mesin instalasi biogas untuk skala rumah tangga. Seperti yang tercatat dalam buku 400 Teknologi Inovatif Badan Litbang Pertanian, instalasi biogas ini memiliki bagian yang mudah dirakit, telah dilengkapi dengan alat pengukur gas (manometer) dan kompor gas LPG yang sudah dimodifikasi. Keunggulan mesin temuan peneliti BPTP Jateng ini adalah mesin instalasi biogas sudah dirakit sedemikian rupa (inlet-digester-outlet) sehingga siap pakai dan dapat dipindahkan. Untik itu teknologi ini sangat bermanfaat bagi keluarga (terutama keluarga peternak ruminansia) dalam pemenuhan energi secara mandiri.

 

Sumber : Yujaya, Eka. 2017. “Energi Masa Depan Terbaharukan Biogas”, http://kaltim.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=884&Itemid=59, diakses pada 15 Juni 2021 pukul 11.47.